Wednesday, March 17, 2021

PERGANTIAN PENGURUS YAYASAN HIDAYATULLAH BENGKULU

PERGANTIAN PENGURUS YAYASAN  HIDAYATULLAH BENGKULU

 Pergantian kepemimpinan merupakan agenda lima tahunan dalam Organisasi Hidayatullah dari Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah sampai pengurus amal usaha antara lain Yayasan milik Hidayatullah.

Demikian juga dengan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Bengkulu yang beralamat di jalan halmahera nomor 5 RT. 7 RW. 4 Kelurahan Surabaya Kota Bengkulu , memasuki tahun 2021 di bulan januari terjadi perubahan struktur Pengurus Yayasan . termasuk pergantian ketua Yayasan.

Sertijab dari pengurus lama kepada pengurus baru


Rapat Penyusunan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Bengkulu
Periode 2021-2025

Sunday, March 14, 2021

DAURAH MURABBI ULA SE-BENGKULU (Hidayatullah Bengkulu)

 

DAURAH MURABBI ULA

SE-BENGKULU(Hidayatullah Bengkulu)

5-7 Maret 2021

 


Dalam rangka mensukseskan perkaderan melalui Pembinaan Halaqoh di seluruh daerah di wilayah DPW Bengkulu maka Dewn Murabbi Wilayah bersama tim Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Bengkulu menyelenggarakan Pelatihan untuk murabbi Halaqah se-Provinsi Bengkulu selama 3 hari yakni Jumat, Sabtu, Ahad tanggal 5 sampai 7 Maret 2021  di kampus madya Hidayatullah Curup.

 

DAURAH MURABBI ULA  SE-BENGKULU (Hidayatullah Bengkulu)

Peserta Daurah Murobbi untuk Halaqoh Ula berasar dari seluruh DPD Hidayatullah se-Propinsi Bengkulu berjumlah 30 Peserta. Setiap DPD mengirim perwakilan dari daerah minimal 2 orang.

 


DAURAH MURABBI ULA  SE-BENGKULU (Hidayatullah Bengkulu)

Friday, February 26, 2021

Pertemuan DPW (Hidayatullah Bengkulu)

 

Pertemuan DPW (Hidayatullah Bengkulu)



Pertemuan DPW (Hidayatullah Bengkulu) - Sebagai langkah persiapan awal silaturahim kader se-Sumatera yang merupakan agenda tahunan yang dikemas dengan nama “HALAQAH MUHARRAM SE-SUMATERA” yang tahun ini akan diselenggarakan insyaallah pada 20-21 Agustus 2021, maka para ketua DPW se-Sumatera mengadakan rapat persiapan acara tersebuat dilakukan pertemuan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Bengkulu. Sebagai koordinator acara ustadz Lukmanul Hakim, S.Sos.I yang merupakan ketua DPW Hidayatullah Sumatera Selatan.

Acara pertemuan tersebut berlangsung selama dua hari dari tanggal 25-26 Februari 2021. Meskipun sebagian ada yang sudah hadir mulai tanggal 24 Februari 2021. 

Suasana rapat cukup santai namun penuh kesungguhan dan semangat kebersamaan. Namun disisi lain canda tawa sering terlontar dalam sela-sela diskusi yang serius. sehingga tanpa terasa waktu rapat  telah selesai dengan baik dan beberapa kesepakatan tentang pelaksanaan kegiatan Halaqah Muharram 1443 H.

Pertemuan DPW (Hidayatullah Bengkulu)

Tuesday, April 5, 2016

Kunjungan Partai Nasdem ke Ponpes Hidayatullah Bengkulu

Memperingati hari ulang tahun Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang ke-4, Partai Nasdem wilayah Propinsi Bengkulu, belum lama ini melakukan silaturrahim mengunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah Bengkulu yang terletak di Jl Halmahera No.05 Rt 07 RW 04 Kelurahan Surabaya Kota Bengkulu.

Dalam Kegiatan yang ikuti oleh seluruh pengurus inti Partai Nasdem Wilayah Propinsi Bengkulu ini, Ketua DPW Partai Nasdem Wilayah Bengkulu, Dedi Ermansyah, Sekretaris DPW Nasdem Propinsi Bengkulu, Erna Sari Dewi, SE. Dedi Ermansyah mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan partai Nasdem yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.

“Kita melakukan doa kebangsaan bersama sebagai bentuk rasa keprihatinan kita terkait bencana asap yang saat ini sudah ditetapkan sebagai bencana nasional,” ujarnya.

Ditambahkannya, untuk menyikapi hal tersebut maka seluruh jajaran Partai Nasdem di seluruh Indonesia mulai dari tingkat DPW, DPD, DPC dan seluruh fungsioner kader-kader partai Nasdem, diinstruksikan untuk mengadakan do’a bersama didaerah masing-masing.

“Kegiatan ini juga bukan hanya dilaksanakan di masjid saja, tetapi dilaksanakan juga di tempat ibadah lainnya, seperti Pura, Gereja, Wihara sesuai dengan keyakinan masing-masing,”.

Selain menggelar kegiatan berdoa bersama, Partai Nasdem juga memberikan apresiasi tali asih kepada para santri berupa bahan pokok seperti, beberapa karung beras dan beragam bahan pokok lainnya.

Penerimaan Mahasantri Baru Ma'had Aly Hidayatullah Bogor

Allahu yarhamuhu Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, pernah mengatakan :
“ Zaman ini sebenarnya sudah menunggu kedatangan seorang Nabi untuk membawa surah al-Alaq (wahyu pertama). Tetapi itu tidak mungkin, karena tidak ada lagi Nabi sesudah Muhammad saw, dan al-Qur’an telah cukup menjadi pedoman hidup manusia sepanjang masa. Oleh karena itu, muballigh-lah yang berfungsi sebagai Nabi, dan muballighlah yang harus tampil mengumandangkan surah al-Alaq itu kepada manusia.” 
( dalam buku Sistimatika Wahyu ).

Ma’had ‘Aly Hidayatullah:
Pendidikan khusus untuk mencetak para kader dai, menerima *Pendaftaran Mahasantri Baru untuk Angkatan ke - 2, tahun ajaran 2016-2017*
Masa Studi 1 Tahun
Program:
📕 Tahfidz 5 Juz
📕 Ilmu Dakwah dan Kepemimpinan Islam
📕 Ilmu Tajwid Teori dan Praktek (Matan Al-Jazariyah)
📕 Terampil Menerjemah dan Membaca Kitab Gundul
📕 Bahasa Arab (Persiapan Kuliah LIPIA dan Timur Tengah)

Persyaratan Peserta:
1 Laki-Laki, usia 17 sampai 35 tahun
2 Lancar membaca Al-Qur'an
3 Lulus tes dan wawancara
 Kuota: 30 Mahasantri

Waktu pendaftaran Peserta:
Pendaftaran: 27 Maret - 20 Juli 2016
Tes Masuk dan wawancara: 22-23 Juli 2016
Orientasi: 24 Juli 2016
Aktif Studi: 25 Juli 2016
☎☎☎☎
Informasi dan pendaftaran
Contact Person:
0813 8007 0261 (Ust. Abi Ja'far Jaelani)
0812 5303 0487 (Ust. Imam Mansur)
0859 2122 2339 (Ust. Muhajirin)
0858 9040 9792 (Ust. Rusli)

Kampus:
Kp. Pasir Pendey Ds. Sukaharja
Ciomas, Bogor Jawa Barat

Tuesday, March 29, 2016

Menjadi Orang Kuat


“Orang yang kuat itu bukan orang yang (tak terkalahkan) saat berkelahi, akan tetapi orang yang kuat adalah mereka yang dapat mengendalikan dirinya pada saat emosi. “(Riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)

Kekuatan selalu kita ukur secara fisik. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bukan menolak ukuran yang bersifat fisik, tapi ada dimensi lain yang sering dilupakan sebagian manusia, yaitu dimensi “rasa”. Justru pada dimensi itulah terletak keberadaan manusia yang sebenarnya.

Orang yang kuat, menurut Rasulullah adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya saat hatinya bergejolak marah. Pada saat seperti itu, ia mampu menahannya dengan kesabarannya dan mengalahkannya dengan keteguhan hatinya. Ia tidak membiarkan jiwanya terlepas liar bersama dengan letupan bunga api kemarahannya, yang kemudian dengan seenaknya mengeluarkan caci maki, kata-kata murka, dan omongan kotor lainnya. Ia tetap dapat mengendalikan kata-kata yang keluar dari mulutnya agar tetap normal, rasional, dan proporsional.

Marah adalah watak yang tersembunyi pada diri setiap manusia yang sewaktu-waktu dapat terpancing oleh allergen (pemicu alergi) yang selalu ada di sekitar kita. Orang yang sehat hatinya tidak mudah terpengaruh oleh pemicu tersebut, akan tetapi bagi orang yang sudah terjangkiti penyakit “asma”, pemicu di sekitarnya dapat mengubahnya menjadi sesak nafas, bahkan tersumbat saluran pernafasannya. Begitulah gambaran orang yang tidak dapat mengendalikan nafsu marahnya. Ia mudah tersulut, terprovokasi, dan terpancing oleh hal-hal yang semestinya tidak perlu sampai membangkitkan amarahnya.

Kita harus mempu memblokir semua jalan keinginan nafsu yang menghancurkan itu. Kita harus membentuk tentara yang kuat dan perkasa untuk mengendalikan nafsu yang menjatuhkan kehormatan diri dan kemanusiaan kita.

Betapa banyak orang yang jatuh kehormatannya hanya gara-gara tidak mampu menahan marahnya? Seorang akademisi tak lagi bicara ilmiah jika sedang marah. Seorang ustadz tak lagi berkata santun saat marah. Seorang ibu tak lagi berkata lembut kepada anaknya saat marah. Seorang ayah berkata dengan tindakan kasarnya saat marah. Seorang pejabat berkata dengan menggebrak mejanya saat marah. Seorang istri menangis histeris saat marah. Tidak ada yang rasional, tidak ada yang proporsional, dan tidak ada yang normal saat orang tak mampu menahan marahnya.

Apalagi jika kemarahan itu sudah bercampur-aduk dengan dendam, sakit hati, dan perasaan terhina. Kolaborasi penyakit hati ini bisa membuncah menjadi bola api besar yang membakar apa saja yang ada di depannya. Pada mulanya hanya kata-kata kotor, kasar, dan menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Tak puas dengan sekadar berkata-kata, ia lampiaskan kemarahannya dengan perbuatan dan tindakan. Tak cukup dengan mencaci dan menghina, tangannya kini mulai bergemeretak, lalu memukul, menendang, melempar, bahkan membunuh, na’udzubillah.

Tak salah jika Rasulullah mendefinisikan orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan marahnya. Menahan kemarahan itu membutuhkan kekuatan yang besar, lebih besar dari letupan kemarahannya. Untuk menahan nafsu marah, dibutuhkan tentara yang perkasa, lebih perkasa dari tentara yang terlatih dan terbiasa dengan membiarkan kemarahannya.

Oleh : Ust.Abdurrahman Muhammad
Sumber :Klik Disini

Dakwah Hidayatullah


“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang disesatkan-Nya dan sekali-kali mereka tidak mempunyai penolong.” (An-Nahl 37).

Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dituju ayat di atas adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam (SAW). Beliau, menurut ayat di atas menyimpan keinginan keras dan hasrat yang kuat agar umatnya hidup dalam naungan hidayah Allah Shubhanahu Wa Ta’ala (SWT). Beliau sangat merindukan kehidupan yang damai, semua yang ada di muka bumi tunduk patuh dan taat pada aturan dan kehendak Ilahi.

Sama halnya dengan Nabi SAW, para dai, dan mujahid Islam juga memendam keinginan yang sama. Mereka berkeinginan agar kaum Muslimin saat ini dapat menjalankan syariat agamanya dengan baik, tanpa gangguan dan rintangan. Mereka juga berhasrat kuat agar kekuasaan yang ada di muka bumi menjadi instrumen ilahiyah untuk menjalankan perintah dan larangan-Nya.

Inilah kerja para dai, muballigh, dan guru agama. Mereka bahagia jika manusia menjalankan perintah agama dengan baik. Sebaliknya, bersedih jika melihat manusia menentang agama, melanggar syariah-Nya. Siang malam mereka bekerja dan berdoa agar Islam dapat menyebar sebagai rahmat kepada seluruh alam.

Para dai yang bekerja keras menyebarkan ajaran Islam tanpa digaji pemerintah ini pantang menyerah menghadapi medan yang sangat berat. Hanya dengan bekal keikhlasan dalam beramal, mereka menelusuri jalan dakwah dengan semangat berapi-api. Dalam jiwanya ada gumpalan kehendak untuk menyebarkan hidayah Islam kepada segenap  manusia. Tidak ada yang bisa mengerem, apalagi menyetop sama sekali.

Sesekali para dai dan mujahid dakwah itu boleh marah bercampur kecewa setelah melihat ada persekongkolan jahat untuk menggagalkan gerakan dakwah. Sesekali mereka boleh hampir putus asa ketika mengetahui para penguasa, para pengambil kebijakan, dan para tokoh yang dipercayainya justru menjalin kerja sama jahat untuk mencundangi Islam.

Perasaan yang sama sesungguhnya telah dialami oleh para nabi dan rasul. Bahkan, dalam al-Qur`an banyak didapati keterangan tentang kesedihan dan kemarahan Rasulullah SAW. “Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.”(Asy-Syu’araa 3).

Tentu saja, ledakan kemarahan dan kesedihan itu tidak boleh ditumpahkan dalam bentuk aksi yang merusak dan perbuatan yang mengancam keselamatan orang banyak. Kita boleh marah dan bersedih hati, bahkan hampir putus asa, tapi kita wajib tetap bisa mengendalikan diri.

Bahkan kalau bisa, hilangkan perasaan marah, sedih hati, atau kecewa. Tanamkan dalam diri sendiri bahwa pemilik agama Islam itu adalah Allah SWT. Dia berkuasa untuk menjaganya, bahkan tanpa bantuan siapa pun juga. Tugas kita hanya berdakwah, menyampaikan kebenaran kepada manusia selebihnya, hasilnya serahkan kepada Allah SWT.

Jangan bersedih atas ulah dan perbuatan mereka. Allah berfirman, “Maka janganlah kamu bersedih terhadap orang-orang kafir itu.” (Al-Maaidah :68).

Sebagai dai dan mujahid kita tidak boleh larut dan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan kepatus asaan. Kita harus sadar bahwa langkah perjuangan kita bukan hanya hari ini dan untuk hari ini. Dakwah itu untuk Jangka panjang. Jika hari ini belum berhasil, biarlah anak cucu kita yang melanjutkan. Itulah ladang dakwah dan perjuangan mereka.

Hidayatullah sebagai wadah bergabungnya para dai menyadari sepenuhnya hal tersebut. Untuk itu, sejak awal Hidayatullah menegaskan dakwahnya dengan mengikuti manhaj nabawi, suatu metode berdakwah yang mengikuti cara-cara nabi, yang sistematis, berjenjang, bertahap, dan berkelanjutan. Wallahu a’lam bish-shawab..

(Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad )

Sumber : Klik Disini